Sejarah Desa

ASAL MUASAL DESA KARANGKEDAWUNG

Bermula dari masa perang Pangeran Dipanegara ( berkisar pada Th 1825 - 1830 ) dengan kekalahan pangeran Dipanegara di era penjajahan Belanda yang memakai politik DUSTREDE yaitu politik dengan membuat banyak benteng atau pertahanan dikandung maksud untuk memperpendek gerak - gerik prajurit Pangeran Dipanegara. Dikarenakan Belanda tidak mampu menghadapi perang gerilya secara langsung yang dilancarkan oleh Pangeran Dipanegara. Sehingga prajurit Pangeran Dipanegara kocar - kacir dengan adanya politik tersebut, dan sebagian dari prajurit tersebut ada yang lari kearah barat didaerah Kaliwadah untuk bersembunyi dan menghindari kejaran dari Pasukan Belanda.

Suatu ketika berkisar tahun 1835 Desa Kaliwadah kedatangan seorang anak laki - laki berumur ± 12 Tahun yang mempunyai tabiat atau kebiasaan kalau tidur tidak pernah diamben ( kasur ) dan harus memakai baju yang baik dan bersih. Dan pada suatu saat Ki Riwuh mengajak warga masyarakat Desa Kaliwadah untuk kerja bakti di area persawahan dan tanpa disadari anak tersebut telah mebuka lahan persawahan baru di area utara Desa Kaliwadah yaitu di daerah Kemitir ( yang dikenal dengan nama Candi Sari ).

Seiring waktu sepenggalah sore ± pukul 14.00 Wib dengan kondisi capai dan penat para warga yang sedang melaksanakan kerja bakti sebagian ada yang istirahat, membakar kayu ddan ranting dan ada yang sedang mandi agar badan terasa segar. Namun demikian anak tersebut tidak terlihat sama sekali dan entah kemana dia pergi.

Ketika semua sudah selesai mandi dan dilanjut istirahat Ki Riwuh menanyakan keberadaan anak tersebut, tetapi anak tersebut dicari – cari tidak ketemu. Dan tiba – tiba anak tersebut keluar dari perapian seraya mendekati Ki Riwuh sambil mengelu – elus rambut di kepalanya sendiri dan berucap “Ki Riwuh namun sementen anggenipun kawula ngladosi ( ngladeni ) dumateng Kiyai ya Ki Riwuh, bilih tedak keturunipun Kyai Sumelang nggadaih gegayuhan sumangga sowan wonten tlatah Kumitir ingkang asri mriki, nyawiji, nyeyuwun dumateng Gusti ingkang Murbeng Dumadi”.

Candi Sari mampunyai arti dalam bahasa jawa yaitu Werta Sari yang dikandung maksud Tempat Pengayom Yang Indah dan Asri. Dan sampai sekarang sebagian masyarakat masih mempercayai bahwa Candi Sari sebagian pepunden Desa Karangkedawung.

Adipati Braja Ningrat alias Adipati Anom ( ± Tahun 1830 ) suatu ketika bertandang kewilayah barat dan bertemu dengan seorang penjual dandang ( alat menanak nasi yang terbuat dari tembaga ) seraya mendekati penjual dandang tersebut dan berkata “Kisanak kowe sapa lan wong ndi”, penjual dandangpun menjawab “kula tiang pasir luhur sinuhun.... ( orang Karanglewas ).

Seiring waktu pada suatu ketika Adipati Braja dan Anom bertemu dengan si penjual dandang kembali dan ditanya seperti semula, “kowe sapa lan wong ndi, nek slirahmu go panutan dadi lurah nang tlatah kene gelem ora?”

Si Penjual dandang tersebut pada akhirnya menjawab, “Dereng saged sinuhun...kula wedos ketingal konangan wonten landa”. Ora usah kuatir sliramu tak ayomi deneng ingsun. Dan tak cukup satu dua kali Adipati Braja dan Anom bertanya kepada penjual dandang tersebut. Dan akhirnya pada pertanyaan berikutnya penjual dandang menyanggupi dan mendapat pituduh pitedah tedak turun pitu. Rejaning jaman keturunanmu iso dadi pengayom, ya lurah nang tlatah kene. Yang saat itu daerah tersebut masih berupa grumbul Karangkedawung.